Payakumbuh | tipikal.com – Pemerintah Kota Payakumbuh terus memperkuat upaya pengurangan risiko bencana melalui sektor pendidikan dengan membekali 150 pelajar tingkat SMA dan madrasah keterampilan dasar kesiapsiagaan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi membangun budaya siaga bencana sejak dini agar generasi muda memiliki kemampuan menghadapi situasi darurat secara cepat, tepat, dan terukur.
Kegiatan Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Kebencanaan yang digelar di Aula Peternakan Provinsi Sumatera Barat, Senin, (15/6/2026), diikuti oleh pelajar dari SMAN 1 Payakumbuh, SMAN 2 Payakumbuh, dan MAN 2 Payakumbuh.
Pemerintah Kota Payakumbuh menilai sekolah memiliki posisi strategis dalam menanamkan kesadaran kebencanaan karena menjadi tempat pembentukan karakter dan pengetahuan generasi muda yang nantinya akan berperan di tengah masyarakat.
Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta melalui Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Erizon mengatakan edukasi kebencanaan harus menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran karena kondisi geografis Indonesia yang rawan terhadap berbagai jenis bencana.
“Edukasi bencana bukan lagi sekadar pengetahuan pelengkap, melainkan keterampilan hidup yang wajib dimiliki oleh generasi muda kita saat ini,” kata Erizon.
Menurutnya, pelajar memiliki peran lebih dari sekadar penerima informasi. Mereka dapat menjadi agen perubahan yang menyebarluaskan pengetahuan mitigasi bencana kepada keluarga, teman sebaya, dan lingkungan tempat tinggalnya.
Dengan pemahaman yang baik, lanjutnya, para pelajar mampu menjadi penggerak terbentuknya budaya siaga bencana yang dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.
“Pelajar dapat menjadi penghubung penyebaran informasi mitigasi ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Ketika pemahaman ini dimiliki sejak dini, maka budaya siaga bencana akan tumbuh lebih kuat di tengah masyarakat,” ujarnya.
Erizon menambahkan, pembentukan masyarakat yang tangguh terhadap bencana membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga pendidikan, maupun masyarakat secara luas.
Karena itu, kegiatan tersebut turut melibatkan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat Wilayah IV serta Kementerian Agama Kota Payakumbuh guna memperluas jangkauan edukasi kebencanaan di lingkungan sekolah.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Payakumbuh Devitra menegaskan bahwa pemahaman terhadap tingkat kerawanan wilayah menjadi salah satu faktor utama dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Menurutnya, BPBD terus melakukan pemetaan terhadap berbagai potensi ancaman bencana sebagai dasar dalam menyusun langkah mitigasi yang lebih efektif dan sesuai dengan karakteristik daerah.
“Semakin baik masyarakat memahami risiko yang ada di lingkungannya, maka semakin besar peluang untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan saat bencana terjadi,” kata Devitra.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan materi dari Komandan Pos Basarnas Kabupaten Lima Puluh Kota Roni Nur mengenai teknik dasar penyelamatan diri dan langkah-langkah yang harus dilakukan pada saat-saat awal setelah bencana terjadi.
Roni menjelaskan bahwa kemampuan bertahan hidup dan melakukan penyelamatan diri menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki setiap individu karena bantuan profesional tidak selalu dapat menjangkau seluruh lokasi terdampak dalam waktu singkat.
“Detik-detik pertama setelah bencana sering menjadi penentu keselamatan. Karena itu, kemampuan melakukan penyelamatan diri harus dipahami dan dilatih sejak usia sekolah,” ujarnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Payakumbuh Arman Riska berharap para peserta dapat menjadi pelopor budaya siaga bencana di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Ia menegaskan bahwa edukasi kebencanaan harus dilakukan secara berkelanjutan agar mampu membentuk kesadaran kolektif dan meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
“Melalui edukasi yang terus dilakukan, kami ingin membangun kesadaran bersama bahwa kesiapsiagaan bencana merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat yang harus dimulai dari lingkungan terdekat,” pungkasnya. (tpk)






