MENGELOLA ISPU AGAR TAK ISPA

- Jurnalis

Rabu, 2 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh :
IRWAN SUWANDI.SN, S.IP, MM

Bencana kondisi kabut asap saat ini, penting bagi kita mengetahui berapa indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) disekitar kita. AQI adalah indeks yang digunakan untuk menggambarkan tingkat pencemaran udara dan dampaknya pada kesehatan.

Di Indonesia, istilah AQI dimodifikasi menjadi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dengan pengertian yang sama persis. Nilai ISPU dikelompokkan kedalam enam kelompok atau kategori dengan rentang 0 s.d > 300.

Pertama, nilai ISPU 0 – 50, artinya kualitas udara baik dan masyarakat aman beraktivitas diluar ruangan.

Kedua, nilai 51 – 100, artinya kualitas udara sedang. Umumnya masih aman untuk orang sehat, akan tetapi dapat berdampak pada kelompok sensitif seperti keompok penyakit akibat infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).

Ketiga, nilai 101 – 150. Nilai ini berkategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, sementara orang sehat boleh beraktivitas diluar, akan tetapi bukan aktivitas berat dan lama.

Keempat, nilai 151 – 200. Ini terkategori tidak sehat, dimana masyarakat sebaiknya membatasi aktivitas diluar ruangan.

Kelima, nilai 201 – 300. Nilai ini berkategori sangat tidak sehat, dimana masyarakat harus menghindari aktivitas fisik diluar ruangan.

Dan terakhir, nilai ≥ 300, artinya kualitas udara berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Mereka wajib menghindari berada di luar ruangan.

Dari paparan itu, pengetahuan akan nilai ISPU menjadi amat penting. Masyarakat harus tahu secara real time berapa nilai ISPA dsaat mereka beraktivitas diluar ruangan, agar mereka bisa menyesuaikan pilihan aktivitas yang sesuai dengan anjuran kesehatan.

Saat ini sudah tersedia teknologi yang dapat mendeteksi dan mengukur ISPU. Di beberapa kota, utamanya kota besar, pemerintah daerah setempat sudah memiliki stasiun pemantau kualitas udara (SPKU). DKI Jakarta misalnya, saat ini memiliki sekitar 114 SPKU.

SPKU umumnya diletakkan di lokasi-lokasi strategis yang mudah diakses masyarakat. Seperti papan reklame, melalui SPKU masyarakat bisa langsung tahu berapa indeks kualitas udara disana saat itu juga.

Langkah Provinsi DKI Jakarta ini penting untuk juga hadir di setiap provinsi maupun kabupaten/kota di Indonesia. Apalagi disaat kabut asap tengah memayungi sejumlah wilayah baik di Kalimantan, Sumatera, atau wilayah lainnya. Meski tak sebanyak DKI Jakarta, minimal SPKU mereka hadirkan di lokasi-lokasi strategis dan pusat keramaian.

Disamping penyediaan SPKU, untuk penyebarluasan informasi ISPU, pemerintah daerah juga dapat memanfaatkan kanal-kanal informasi seperti website, media sosial, radio, TV lokal, Orari, dan lain sebagainya.

Semakin banyak dan semakin sering nilai ISPU disosialisasikan, semakin baik penyikapan masyarakat terkait kondisi pencemaran udara di wilayahnya.

Secara berkala, pemerintah juga perlu melakukan himbauan terkait kualitas udara. Masyarakat diminta serius memantau indeks kualitas udara menyesuaikan aktivitas luar ruangan sesuai dengan anjuran kesehatan.

Dengan demikian, insyaallah dampak buruk pencemaran udara dapat dihindari.
Dampak pencemaran udara tak akan langsung terasa dalam jangka pendek.

Statistiknya justru jangka panjang. Kualitas udara yang buruk akan menurunkan kualitas kesehatan masyarakat. Turunnya kualitas kesehatan masyarakat akan mengakibatkan rendahnya angka harapan hidup (AHH) atau perkiraan rata-rata jumlah tahun yang dapat dijalani oleh seseorang sejak lahir.

Saat ini, indeks AHH Indonesia berada diangka 74,06 tahun. Angka ini jauh berada dibawah Jepang dan Singapura yang berada diangka 84 tahun. Kita tahu bahwa dua Negara itu, sangat serius mengelola ISPU dan juga pencemaran lainnya. Maka wajar angka AHH mereka 10 tahun lebih lama dari kita.

Sudah saatnya kita serius mengelola indeks kualitas udara ini. Hal sederhana, tetapi punya dampak signifikan untuk kesehatan warga. Jangan sampai ketidakseriusan mengelola ISPU, membuat penyakit ISPA merajalela di Indonesia. Wallahua’lam.

IRWAN SUWANDI.SN, S.IP, MM
Alumni FISIP Universitas Andalas dan Magister Manajemen ITB HAS Bukittinggi
Pemerhati Masalah Sosial dan Kebijakan Publik

Berita Terkait

PENGANGGURAN
FUFUFAFA Dalam Fenomena Politik Indonesia
Wacana Pemindahan Ibu Kota Sumatera Barat, Payakumbuh Sebagai Kandidat Utama
Algoritma Kekuasaan di Antara Politik dan Nilai (value)
Pilih Pemimpin Berkualitas untuk Kemajuan Kota Payakumbuh
Menyikapi Keadaan PDAM Tirta Sago Payakumbuh
Terkait Bansos Covid-19, Wako: MIRIS DENGAN OKNUM ASN YANG TIDAK VISIONER

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 11:08 WIB

MENGELOLA ISPU AGAR TAK ISPA

Senin, 24 Agustus 2026 - 10:58 WIB

PENGANGGURAN

Senin, 23 September 2024 - 08:14 WIB

FUFUFAFA Dalam Fenomena Politik Indonesia

Minggu, 22 September 2024 - 20:57 WIB

Wacana Pemindahan Ibu Kota Sumatera Barat, Payakumbuh Sebagai Kandidat Utama

Jumat, 6 September 2024 - 11:45 WIB

Algoritma Kekuasaan di Antara Politik dan Nilai (value)

Berita Terbaru

Opini

MENGELOLA ISPU AGAR TAK ISPA

Rabu, 2 Sep 2026 - 11:08 WIB

Payakumbuh

Dandim 0306/50 Kota Ajak SMSI Luak 50 Perkuat Sinergi

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:19 WIB