Parade Onthel Payakumbuh 2025, Dua Hari Kota Berubah Jadi Panggung Tempo Dulu

- Jurnalis

Minggu, 9 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Payakumbuh | tipikal.com — Akhir pekan di Kota Payakumbuh terasa berbeda. Suara bel sepeda tua menggema di sepanjang jalan, mengiringi ratusan pesepeda berbusana tempo dulu yang mengayuh sepeda onthel melintasi kampung adat, rumah gadang, masjid, hingga taman kota.

Inilah Parade Onthel Payakumbuh 2025, perayaan dua hari yang menghadirkan suasana klasik dan nostalgia, seolah membawa kota ini kembali ke masa lalu.

Parade Onthel bukan sekadar kegiatan olahraga atau nostalgia. Ini adalah cara kita memperkenalkan Payakumbuh sebagai kota yang kaya akan budaya, ramah wisata, dan kuliner yang lezat,” ujar Wali Kota Payakumbuh, Zulmaeta, saat melepas peserta, Minggu, (9/11/2025).

Selama dua hari, 8–9 November 2025, jalanan Payakumbuh dipenuhi sekitar 500 onthelis dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Padang, Bukittinggi, Lampung, Jambi, Palembang hingga Sidoarjo. Mereka datang dengan sepeda yang telah berusia puluhan tahun, beberapa bahkan diwariskan turun-temurun.

Dengan busana jadul seperti jas safari, kebaya, hingga seragam pejuang, para peserta menjadikan jalanan Payakumbuh sebagai panggung wisata bernuansa sejarah.

Konsepnya adalah menghadirkan pengalaman wisata yang berbeda. Kita ingin orang datang ke Payakumbuh bukan hanya untuk melihat pemandangan, tapi juga merasakan suasana masa lalu yang hidup kembali,” ujar Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kota Payakumbuh, Yunida Fatwa, yang juga ketua pelaksana kegiatan.

Rute parade dirancang layaknya paket wisata budaya. Dimulai dari GOR M. Yamin yang disulap menjadi Pasa Lamo, peserta melintasi Kampung Adat Balai Kalikih, Masjid Gadang Balai Nan Duo, Tugu Onthel raksasa ikon yang hanya ada dua di dunia hingga berakhir di Taman Batang Agam, ruang hijau kebanggaan warga Payakumbuh.

Tak hanya parade, malam sebelumnya para peserta disuguhi sajian seni tradisional dan kuliner lokal di kawasan Pasa Lamo.
Dari tarian Minang hingga musik saluang dan rabab, semua tampil dengan nuansa klasik yang memikat.

Pesertanya kagum karena bisa menikmati makanan tradisional yang sekarang sudah jarang ditemui. Ini juga jadi ajang promosi kuliner lokal,” tambah Yunida.

Aroma makanan tradisional memenuhi udara di sekitar lokasi. Masyarakat pun ikut memeriahkan acara, menjadikannya pesta rakyat yang menyatukan wisatawan dan warga lokal.

Parade Onthel ini bukan hanya milik komunitas sepeda tua, tapi milik semua orang Payakumbuh. InsyaAllah tahun depan akan digelar lagi, karena dampak ekonominya terasa nyata,” ujar Wakil Wali Kota Payakumbuh, Elzadaswarman, yang juga Ketua Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) Sumatera Barat.

Bagi Pemerintah Kota Payakumbuh, Parade Onthel menjadi model pengembangan wisata budaya berkelanjutan. Kehadiran peserta dari luar daerah meningkatkan hunian penginapan, penjualan kuliner, hingga omzet pedagang kecil.

Dampak ekonominya langsung terasa. Dari penjual makanan, pengrajin, sampai tukang foto keliling semuanya ikut merasakan manfaatnya,” kata Yunida.

Wali Kota Zulmaeta menegaskan, kegiatan seperti ini akan terus didorong sebagai bagian dari strategi Payakumbuh membangun citra sebagai kota kreatif dan ramah wisatawan.
Melalui event budaya seperti Parade Onthel, kita ingin wisatawan melihat bahwa Payakumbuh bukan hanya kota yang indah, tapi juga punya jiwa yang hidup,” ujarnya.

Payakumbuh kini semakin percaya diri memposisikan diri sebagai salah satu destinasi wisata alternatif di Sumatera Barat. Setelah sukses dengan berbagai festival kreatif, parade ini menjadi bukti bahwa kegiatan berbasis komunitas juga bisa menjadi magnet wisata.

Event seperti ini sangat potensial dikembangkan karena mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah, tanpa perlu promosi besar-besaran. Orang datang karena rasa ingin tahu, tapi pulang dengan membawa kesan tentang keramahan dan budaya Payakumbuh,” ujar Elzadaswarman.

Menjelang siang, seluruh peserta mengayuh sepeda menuju garis akhir di Pasa Lamo GOR M. Yamin Kubu Gadang.

Lebih dari sekadar nostalgia, Parade Onthel Payakumbuh 2025 menjadi potret bagaimana sebuah kota kecil mampu membangun identitas pariwisata yang kuat melalui kreativitas dan pelestarian budaya.

Parade Onthel adalah wujud bahwa pariwisata tak selalu harus glamor. Cukup dengan sepeda tua, senyum warga, dan suasana tempo dulu, sebuah kota bisa menjadi destinasi yang tak terlupakan,” pungkas Wako Zulmaeta. (tpk)

Berita Terkait

GOW Payakumbuh Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Banjir dan Galodo
GOW Payakumbuh Salurkan Puluhan Paket Bantuan untuk Warga Terdampak Musibah di Solok
Lantunan Kalamullah Iringi Pelepasan 76 Kafilah MTQ Payakumbuh ke Bukittinggi
Pemko Payakumbuh Hentikan Kegiatan Bernuansa Euforia, Ajak Warga Perkuat Empati untuk Korban Bencana Sumbar
Upacara HGN dan HUT ke-80 PGRI di Payakumbuh Tetap Khidmat di Tengah Hujan
Ledakan Kreativitas Anak Muda Warnai PCF 2025 di Payakumbuh
Sekretaris PKK Didorong Jadi Penggerak Koordinasi dan Pusat Data Program Keluarga di Payakumbuh
Gerakan Sehat, Masa Depan Hebat: Pemko Payakumbuh Peringati HKN ke-61

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 07:42 WIB

GOW Payakumbuh Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Banjir dan Galodo

Senin, 15 Desember 2025 - 07:29 WIB

GOW Payakumbuh Salurkan Puluhan Paket Bantuan untuk Warga Terdampak Musibah di Solok

Jumat, 12 Desember 2025 - 19:50 WIB

Lantunan Kalamullah Iringi Pelepasan 76 Kafilah MTQ Payakumbuh ke Bukittinggi

Senin, 8 Desember 2025 - 10:37 WIB

Pemko Payakumbuh Hentikan Kegiatan Bernuansa Euforia, Ajak Warga Perkuat Empati untuk Korban Bencana Sumbar

Selasa, 25 November 2025 - 17:54 WIB

Upacara HGN dan HUT ke-80 PGRI di Payakumbuh Tetap Khidmat di Tengah Hujan

Berita Terbaru

Bupati / Wakil Bupati Lima Puluh Kota

Sekretaris Utama BNPB Tinjau Huntara Terdampak Bencana di Gunuang Omeh

Selasa, 6 Jan 2026 - 23:46 WIB